Memotret Perpisahan
Dikehidupan dewasa, berpisah adalah salah satu jalan menuju kebahagian.
Kenapa? karena mereka melepaskan beban yang terkurung dalam ruang yang sudah tak berjalan beriringan dengan berpisah dan membuka pintu bahagia.
Namun, mengakhiri tak semudah mengusap air mata. Butuh lebih dari air mata, sebut saja keberanian. Aku rasa itupun belum cukup.
Semudah itu mengakhiri hingga membuat penonton takjub, dia menjadi individu bebas menari.
Ingin rasanya ku buka isi kepalanya. Aku melihat tidak ada air mata jatuh.
Aku melihat mereka menjadi asing. Semudah itu.
Cerita-cerita liar yang terdengar, tak mengusiknya. Dia tetap berjalan, seolah tak mendengarnya. Seperti tak ingin membuka kenangan itu kembali. Berjalan diam dalam terang, tenggelam dalam tangis malam.
Tidak ada adegan, seseorang mencoba menelepon untuk mendengar suaranya seperti di film-film.
Tidak ada adegan, seseorang mencoba mengirim pesan singkat kepadanya.
Semua mematung dan berdiam pada kordinat masing-masing.
Perpisahan yang menyedihkan.
Tampaknya perpisahan dengan berlembar-lembar dialog hanya ada di film semata.



Comments
Post a Comment